Kepala 3 di 2025 - Masih berharap dan terus berharap
Halo, kenalin namaku Nila Puspitasari kalian bisa panggil aku Nila, Pipit atau apapun yang kalian suka yang penting jangan ada unsur ejekan yah hehehe.
Nggak kerasa sudah 2025, di tahun ini usiaku sudah genap kepala 3. Di kehidupan sekarang aku amat bersyukur atas segala hal yang sudah diberi Alloh kepada ku, dari punya suami yang penyayang dan tanggung jawab, orang tua dan saudara yang selalu support apapun yang aku lakukan.
Tahun ini sudah genap 1 tahun aku resign dari gelar "Buruh Corporate" hehehe. Happy sih, happy banget malahan. Tapi kadang kangen juga bisa tiap pagi dandan cantik wangi lalu ikut berdesakan memecah keramaian kota Solo (lebih ke Karanganyar sih wkkwkw) bersama para pencari pundi-pundi rupiah lainnya. Tapi bersyukurnya, suami support full apa yang aku lakukan, tuntutannya cuma satu yaitu jangan sampai di rumah hanya nonton TV, tiduran dan melakukan hal-hal yang tidak mengasah otak agar tidak menjadi manusia yang "bodoh" di mata dunia.
Tadinya, nggak pernah terpikirkan sedikitpun untuk mengambil keputusan resign. Disamping kebiasaan jajan dan lapar mataku masih banyak, aku juga masih meragukan apakah materi ini cukup untuk hidup kami berdua ditambah 1 ekor anak anjing?
Tapi ternyata Alloh menjawab doaku, dimana setelah aku resign Alhamdulillah suamiku mendapat banyak sekali rezeki yang tidak kita duga sama sekali. Kemudian aku malu atas diriku sendiri, kok bisa seorang hamba meragukan Sang Pemberi Kehidupan?
Hal-hal yang tidak kuduga kemudian terjadi, hari-hari sebagai IRT dan freelance sosial media officer memenuhi kendi-kendi kehidupanku.
Namun, tidak bisa kupungkiri banyak hal-hal sedih yang selalu aku rasakan. Kadang kalau perasaan ini datang, suamiku yang setia menjadi bahu untuk aku menangis hehehe. Nggak usah dibayangin gimana jeleknya wajahku kala sedih itu datang.
Setiap waktu, pertanyaan tentang "Apakah aku belum dianggap mampu untuk mempunyai buah hati hinggap dan lagi-lagi menyakiti hatiku" pasti tangisan tanpa suara ini...
Menyalahkan diri sendiri
Terpuruk
Kemudian sedih dan kembali terkoyak hatiku
Setiap bulan menjadi rutinitas di tanggal memasuki jadwal menstruasi
Setiap bulan pula, suamiku selalu menguatkan dan jadi tempatku bersandar.
Selain dia, entah dengan siapa lagi aku bisa membagi perasaan ini. Terkadang ketika aku pulang dan bertemu keluarga, sedikit banyak mereka pun bertanya dengan penuh kehati-hatian agar aku tidak terluka. Tapi ternyata diriku kuat, hanya tersenyum dan coba mengalihkan segala pembicaraan itu.
Selalu takut dan merasa gagal membuat aku ingin menarik diriku kuat-kuat dari kehidupan sosial manapun termasuk keluargaku sendiri. Ketika ada yang mengabarkan dirinya hamil, apa yang aku lakukan? Aku marah pada Alloh, aku marah kepada semesta. Kenapa bukan aku? Kenapa aku masih harus menunggu? Kenapa mereka mudah dan aku sulit? Kenapa penantianku terlalu lama?
Tapi kemudian aku tau, kemarahan ini berubah menjadi rasa sakit yang dalam, terkoyak dan pedih. Menangis tiap bulan? Pasti. Aku sudah di posisi menjauh jika ada orang yang sedang hamil, kemudian kembali mendekat ketika sudah persalinan.
Hari ini tetangga sebelah rumah bercerita, HPL dia di bulan ini. Aku kemudian bingung harus mendeskripsikan perasaanku bagaimana. Senang namun ada pedih yang aku rasakan, tapi nggak papa udah biasa dan akan terbiasa.
Anw, semoga tahun ini jadi awal tahun dengan berkah melimpah kesehatan, kebahagiaan, kelancaran rezeki untuk keluarga kecilku dan orang-orang yang aku sayangi.
Mungkin aku akan sering bercerita disini, dan membiasakan tanganku untuk berbicara apa yang dirasakannya.
Terima kasih sudah membaca, happy terus dan sehat selalu ya 💖
Komentar
Posting Komentar