Apakah jawaban tenang?
Hari biasa, tidak ada yang istimewa selain adik suami yang sedang datang ke Solo untuk mengurus beasiswa kuliah di luar negeri.
Bojo pulang kerumah sekitar jam 8 malam, karena hawa panas dan rencana kita (aku, bojo dan adik bojo) untuk menonton film bersama di kamar menggunakan tablet. Aku dan bojo memutuskan ingin beli es teh di wedangan dekat rumah agar bisa dinikmati ketika nonton film. Btw ini cerita setelah 22 hari berlalu karena sudah terlampau tidak terlalu sedih.
Setelah pulang dari wedangan, masuklah kita kekamar. Sampai dikamar aku ngeliat adik bojo sedang berkaca-kaca matanya. Saat itu aku berfikir "apakah ada yang salah". Dia bilang "coba kalian chek grub"
dan taraaaa...
Adik suami yang baru menikah 1 bulan sudah hamil...
Bisa dibayangin gimana ekspresiku kala itu,
Tertegun, diam dan berkaca-kaca kemudian perasaan sedih yang dalam itu datang lagi. Kali ini lebih parah karena aku tidak bisa langsung mengekspresikan kesedihanku seperti biasa. Biasanya kalau sedang seperti ini bojo bakalan dateng terus meluk. Tapi karena ada adiknya, hal itu tidak dia lakukan...
Beberapa saat kemudian, terjadilah vidcall itu (dan aku sendiri yang tidak di tanya)
Nggak bisa! Aku nggak kuat untuk nahan ini semua, aku memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi dengan alasan sakit perut. Kutinggalkan es teh yang dingin itu dengan perasaan berkecamuk. Di dalam kamar mandi aku melihat diriku dicermin, tatapan mata diriku yang kian lama kian kabur tertutup gumpalan air mata serta wajah merona merah menahan isak.
Pecah sang tangis itu, tanpa henti air mata terus dan terus mengalir tanpa bisa aku kendalikan lagi. Mungkin ada 30 menit aku terdiam di kamar mandi. Kemudian aku melihat lagi sorot mata itu, sorot mataku yang merah serta kantung mata yang tiba-tiba terlihat jelas menggambarkan kesedihan.
Aku beranjak menuju kamar ke 2, dalam gelap dan kosong tangisku pecah kembali. Sambil tercekat oleh isakan yang tidak boleh orang lain tau. Pikiranku melayang, meneropong bayangan gelap yang membuatku ingin muntah.
SEMUA NGGAK ADIL!!!
KENAPA BUKAN AKU???
KENAPA BEGITU LAMA???
KENAPA BANYAKNYA DOAKU TIDAK DIKABULKAN???
APA YANG SALAH???
dan banyak pertanyaan yang muncul. Disaat itu terpikirlah aku untuk bercerita kepada mama, berharap responnya yang menenangkan. Namun "jangan berharap berlebih kepada manusia" sepertinya kata-kata itu benar adanya. Respon yang aku nanti akan menjadi penenang hatiku, nyatanya tidak. Bukannya membuat tenang, hanya kata-kata penghakiman dan tuntutan yang keluar dari balasan whatsapp yang aku terima. Perasaan ini berubah dari sedih menjadi marah kemudian kecewa... Sungguh perasaan ini masih aku simpan sampai hari ini.
Kepada siapa lagi aku harus berbicara selain suamiku??
Hampir 1 jam di pojok yang gelap itu aku menangis, meratap, marah kepada kenyataan kemudian berusaha menenangkan diriku sendiri. Kuseka air mataku, kutunggu hingga merah di mataku memudar kemudian kuberanikan diri memasuki kamar kembali.
Dengan senyum yang terlihat pasti dipaksakan, kemudian kulihat bojo yang sudah tertidur karena kelelahan. Kurebahkan diriku disebelahnya, rasanya ingin berhenti jantungku agar tidak terasa sakit lagi. Menit berganti jam, mata tidak mau terpejam. Scroll sosial media dengan harapan agar mataku lelah kemudian tertidur, tapi tidak berdampak apa-apa.
Anehnya, sosial media yang aku buka (kebetulan tiktok) menampilkan banyak sekali kata-kata penenang, kata-kata yang aku harap aku dengar sekarang. Kemudian aku sadar, apakah ini jawaban dari Alloh untuk menenangkanku?
Sampai jam 2 pagi akhirnya aku tidur dengan beragam mimpi buruk. Pagi harinya bojo bangun duluan, kemudian dia bilang "sini kupeluk"
Tangis...
Sedih...
Tapi kemarahan sudah hilang dari hatiku. Apakah aku terobati dengan banyak kalimat yang aku baca di TikTok semalam? Aku juga nggak tahu, yang jelas pagi itu aku sudah tidak merasa marah lagi, hanya sedih yang pilu. Butuh beberapa hari untuk kembali menata hatiku yang saat itu rapuh, butuh beberapa hari untuk minimal tidak mimpi buruk berlarut-larut.
Sekarang, hari ini 06 Juni 2025
Aku sudah tidak merasa sakit, sedih sedikit tapi sudah mulai normal kembali. Kuharap tidak akan bertemu adik suami yang sedang hamil sampai saatnya dia melahirkan. AAMIIN
Couvee Solo, 06 Juni 2025
Komentar
Posting Komentar